Merasul Dengan Pantun

Posted on May 15, 2008. Filed under: artikel |

(pakek pantun bae..)

Dari dabok ke Ujung Beteng
Naek sampan bepeloh keringat
Dari pade kepale peneng
Mendeng ngenet..dak penat-penat..

Kalau belayar ke pulau-palau
Jangan lupe memakan obat
Walau website maken bedelau
masih diket ok yang berminat……

(bedelau: lawa; sungguh-sungguh cantik; bagus)

Merasul adalah salah satu panggilan umat beriman untuk menyampaikan keselamatan kepada semua manusia. Keselamatan itu adalah warta gembira Kristus yang hidup, wafat dan bangkit dengan mulia. Dalam prakteknya ada banyak cara yang bisa digunakan. Namun pengalaman menunjukkan kegiatan merasul cenderung tidak meresap ke dalam jiwa dan berakar di dalam suatu masyarakat, jika tidak masuk dan berakar di dalam kebudayaan. Pendek kata, bagaimana pun perubahan yang menyangkut kristianisasi harus menjadi bagian yang hidup dari lingkup kebudayaan suatu masyarakat. Seandainya tidak terjadi, maka pewartaan itu tidak atau belum berakar. Hal tersebut mungkin teoritis saja, tetapi dalam praktek bisa juga terasa. Oleh karena itu mengenal kebudayaan masyarakat setempat dan menapis nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya adalah wajib dilakukan, setidak-tidaknya demi sebuah kecakapan pastoral dalam usaha mengakarkan kabar gembira Kristus kepada masyarakat setempat.

Kenyataan di Keuskupan Pangkalpinang………..

Tanpa bermaksud menggurui, tulisan ini akan memperkenalkan kepada pembaca sebuah kebudayaan yang cukup dikenal dan hidup dalam masyarakat Melayu, di mana Keuskupan Pangkalpinang berada (Bangka-Belitung dan Kepulauan Riau). Kebudayaan yang saya maksud adalah pantun. Mengapa pantun dan bukan kebudayaan lain? Ada beberapa alasan yang dapat saya sebutkan.

Pertama, pantun adalah salah satu produk kebudayaan Melayu yang telah lama menjadi objek pengkajian para peneliti baik dari dalam negeri maupun luar.

Kedua, pantun relatif tidak terikat oleh batasan usia, jenis kelamin, stratifikasi sosial dan hubungan darah. Ada jenis pantun kanak-kanak, ada pula pantun remaja, pantun dewasa dan pantun orang tua yang secara langsung terpecah pada kategori-kategori tertentu, seperti pantun usik-mengusik, pantun jenaka, pantun nasihat dan lain sebagainya. Dengan kata lain, siapa pun boleh dan punya hak untuk berpantun. Pantun berlaku untuk semua orang, ia terbebas dari segala ikatan dan menjadi seperti sesuatu yang hidup dan dihidupi masyarakat.

Ketiga, pantun dapat digunakan di sembarang tempat dalam berbagai suasana, atau dalam kegiatan apapun. Ia boleh berada di mana saja, kapan saja, dan dapat dibawakan siapa saja tanpa kuatir melanggar tabu. Pantun telah menjadi alat komunikasi yang lebih luas di tingkat massa.

Tiga alasan yang saya sebutkan ini rasanya sudah menjawab pertanyaan di atas. Dengan kata lain, dibandingkan dengan kebudayaan lainnya, seperti tarian serampang dua belas, mahyong dan sebagainya (khusus kebudayaan di bumi Melayu Bangka-Belitung dan Kepulauan Riau), pantun lebih popular di masyarakat umum. Sehingga ketika kita berbicara tentang kebudayaan Melayu maka yang paling mudah di ingat masyarakat umum adalah kebudayaan pantun.

Kerasulan dan pantun….

Saya kira kita sudah mengerti dan memahami bahwa banyak cara yang dapat kita tempuh untuk merasul. Berbagai metode mungkin telah kita jalankan dan hasilnya juga belum tentu mengecewakan. Tapi bagaimana kerasulan itu dapat menghibur dan diterima dengan hati yang terbuka, (terutama bagi masyarakat di Keuskupan kita), pantun barangkali memberikan alternatif.

Secara psikologis orang rasanya akan lebih menerima sebuah nasihat atau sindiran jika lebih dulu diawali pembayang (sampiran) daripada menyatakan sesuatu secara blak-blakan. Misalnya ketika hendak menasihati umat yang hanya aktif ke Gereja ketika Paskah dan Natal, bisa digunakan pantun berikut:

Sore hari ke dusun Cambai
Singgah sekejap di dusun Pangkul
Kalau Natal umatnya ramai
Setelah itu tak muncul-muncul

Orang yang mampu mempergunakan pantun, tak perlu kuatir, kalau-kalau orang yang diajak bicara itu tidak memperhatikan katanya, sebab waktu ia mengucapkan sampiran, orang yang mendengarnya akan mulai memperhatikan kata-kata yang akan dituturkan yang mengandung isi kalbunya. Demikianlah pantun yang tampak begitu sederhana, lugas dan spontan sesungguhnya menyimpan begitu banyak kekayaan. Siapa yang mencoba menikmatinya pasti akan menjamah kekayaan itu. Maka rasanya bukan suatu kebetulan jika Mgr. Hilarius Moa Nurak,SVD, Uskup Pangkalpinang, beberapa tahun ini sangat menikmati pantun. Beliau bahkan banyak mengoleksi pantun, mendengarkan bang Kario si jago pantun dari Kurau setiap Jumat malam di Radio Prima, dan sudah banyak pula menciptakan pantunnya sendiri yang dibawakannya dalam kotbah atau pidato-pidato sambutan. Terakhir ini dalam ucapan kartu natalnya pun beliau sudah mencoba memperlihatkan kepada kita betapa pantun memiliki daya pembatinan yang lebih efektif.

Apa yang dilakukan bapa Uskup ini, rasanya meneguhkan saya, bahwa warta keselamatan Kristus itu rasanya harus diwartakan dengan cara yang menghibur sedemikian rupa mengena dan mengakar dalam hati umat di bumi serumpun sebalai (Bangka-Belitung) dan Bumi Segantang Lada (Kepulauan Riau). Tidak sulit jika kita mau mencobanya. Baca aja pantun-pantun yang ada. pelajari alur dan liriknya. Cari kata-kata yang mengena dan beranilah walau kadang kurang tepat. Toh banyak hal bisa kita lakukan karena biasa. Merasul dengan cara menghibur….pake pantun bae pak chik

Langet mendong tande nak hujan
bawaklah payung entah kemane
Sampai sini aku sudahkan
Banyak bebual kelak tak kene……

pagi hari punai bekicau
terbang melayang mencarik makan
daripade tambah ngeracau
lebih baek aku sudahkan….

[Oleh Ch.Paschal St.Esong/www.keuskupanpkpinang.org]

Advertisement

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Merasul Dengan Pantun”

RSS Feed for Heribertus Herning Palmono Comments RSS Feed

asssalamualaikum pakcik & makcik

boleh tak aq nak tanye dikit gimana carenya buat pentun yang enak didenga orang rame


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.